beberapa bulan yang lalu saya sedang browsing, menemukan sebuah artikel berjudul “Kemasan Susu Indomilk Mengandung Pesan Abnormalitas“. sempat waktu itu saya ikut comment di blog itu. setelah sekian lama tidak membuka akun (artikel itu terdaftar di blog kompasiana), akhirnya saya membuka lahi akun di sana. ternyata komentarnya semakin panjang saja. padahal sudah hampir tujuh bulan sejak saya komentar dan komentar terakhir adalah beberapa menit sebelum saya login. tema pembicaraan mengenai homoseksualitas. bukan tema yang ringan untuk dibicarakan di sistem “demokrasi” seperti ini. banyak argumen yang muncul baik yang pro dengan homoseksual maupun yang kontra disertai dengan dalil-dalil yang mereka yakini. kenapa homoseksual masih berkembang di negeri ini?
Jika FPI Harus Bubar
14 Februari, yang sebagian masyarakat memperingatinya sebagai hari valentine atau hari kasih sayang (katanya begitu) diwarnai dengan demonstrasi pembubaran salah satu ormas islam, Front Pembela Islam (FPI). organisasi ini bagi sebagian orang dilihat sebagai ormas yang selalu membuta kerusuhan dan kerusakan. sebagian orang masih ingat tentang pengrusakan tempat-tempat yang dijadikan basis kehidupan orang-orang ahmadiyah. atau ketika awal bulan ramadhan selalu melakukan aksi sweeping minuman keras. atau kasus yang agak lama ketika bentrokan dengan AKKBB. tiada asap tanpa api, mereka tidak melakukan tindakan-tindakan tersebut tanpa adanya alasan dan landasan yang kuat.
“Jupe Titisan Suzanna”, Ga Penting Banget Deh
beberapa waktu yang lalu saya melihat salah satu iklan film bioskop di salah satu televisi, kok judulnya ada “jupe titisan suzanna”-nya. pikir saya, makin ga bermutu lagi nih perfilman Indonesia. sistem lama yang tidak bermutu tetap dilanjutkan. sistem film yang hanya seputar horor dan (maaf) seks akan terus berkembang di negeri ini. generasi yang dihasilkan oleh negeri ini pikirannya juga tidak akan jauh-jauh dari sana. memangnya tidak ada topik lain yang bisa diangkat ya? kalau tidak bisa memberi manfaat kepada orang lain, setidaknya jangan memberi madharat.
Kotak Hitam itu Bernama Radio
radioku bukan hitam kok, tapi silver bentuknya juga bundar bukan kotak. aku pake radio di hp kok, jadi warnanya merah. aku ndengerin radio pake komputer kok, kan streaming. apapun itu bentuknya, tapi secara esensi sama, radio, hanya bisa dinikmati dengan didengar, berbeda dengan tv yg bisa dinikmati secara audio visual. ikut-ikutan ukhti zias yg posting tentang meet and greet penyiar MQFM (Manajemen Qalbu FM) jogja di JIBF (Jogja Islamic Book Fair) hehehe…. setiap hari mendengar mereka di radio tapi belum sekali pun bertemu dan tatap muka. begitu juga dengan sesama pendengar, belum pernah sekali pun bertemu meski sering cuap-cuap di facebook. alhamdulillah kemarin bisa bertemu dengan para penyiar MQFM jogja dan beberapa pendengar setia. “ooo ini to yang namanya mas farid”, kata mas Anhar, salah satu announcer. begitu juga ketika saya bertemu mas catur, mas zubaidi, mas fauzy, dan mas aat (keempatnya adalah pendengar MQ). alhamdulillah bisa menambah saudara.
Investigasi yang Menjatuhkan
bagaimana perasaan anda jika ternyata makanan yang anda konsumsi jauh dari faktor higienis bahkan menjijikkan? anda tidak mau memakannya bukan? tetapi ternyata ada oknum yang menjual makanan menjijikkan dan tidak sehat dengan sedikit menambahkan “kreativitas”. isu itulah yang diangkat oleh trans tv salah satu televisi swasta nasional dalam acara reportase investigasi. banyak perasaan yang muncul setelah melihat tayangan itu, menjijikkan, takut, waspada, kesal, dan lain sebagainya. tapi dari perasaan-perasaan itu, mana yang paling dominan? takut, itu yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat. jangan-jangan makanan yang saya makan seperti itu, jangan-jangan makanan yang dijual di sana seperti itu, jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu.begitu juga iklan layanan masyarakat yang “melarang” anak-anak jajan di pinggir jalan karena membuat sakit, itu juga iklan yang menjatuhkan kaum pinggiran yang mencoba bangkit dengan semangat mereka. menurut saya, tayangan itu bagus, tapi kurang pas. kenapa?
Alon Alon Waton Kelakon
sebenarnya tulisan ini pernah saya posting di blog permadi tapi waktu itu masing menggunakan honsting di wp. ketika berpindah ke blogspot, eh sama admin kelewatan recovery-nya. ini juga hanya menyampaikan ulang dari apa yang telah disampaikan oleh prof damardjati supandjar di salah satu televisi swasta di jogja. kebanyakan dari kita salah kaprah dalam mengartikan istilah alon alon waton kelakon. sering kali kita mengartikannya sebagai “PELAN PELAN ASAL KESAMPAIAN”. padahal, jika kita runut dari asal katanya, jauh berbeda dengan apa yang kita ketahui selama ini. justru mengingatkan kita akan sebuah kehati-hatian.
Quis Custodiet Ipsos Custodes
bahasa planet mana tuh? “quis custodiet ipsos custodes”, bahasa latin yang berarti “siapa yang akan mengawasi sang pengawas?” bagi Anda ahli bahasa, silakan dikoreksi jika saya salah karena saya hanya mengutip salah satu kalimat dalam novel Dan Brown yang judulnya Digital Fortres (Benteng Digital). saya teringat kalimat itu ketika melihat salah satu iklan di tv, kurang lebih demikian “ketika eksekutif, legislatif, dan yudikatif sama korupsi, siapa yang akan mengawasi?” sama bukan dengan pernyataan quis custodiet ipsos custodes. saya bukan ahli hukum atau politik, tapi saya termasuk rakyat yang menjadi korban dari dunia politik. jika kita kembalikan ke pengertian dari demokrasi yaitu pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat, maka yang berhak mengawasi mereka adalah rakyat. tapi, benarkah demikian?
Antri e-KTP, Waduh….
beberapa hari ini, status facebook sedang ramai diisi dengan tema “antri e-ktp yang bagaikan antri sembako”. memang benar, siang tadi saya merasakan sendiri begitu lamanya antrian untuk foto e-ktp di kantor kecamatan tempel, kabupaten sleman. bagi teman-teman dan tetangga yang memasukkan undangan ke bagian registrasi pada pukul 8.30an, maka baru bisa foto pukul jam 11an. bagi saya yang baru memasukkan undangan jam 10.30 baru bisa masuk ke ruang foto pukul setengah dua lebih hampir jam dua. bisa dibayangkan betapa lamanya mengantri demi subuah lembar identitas yang belum terlihat seperti apa bentuk e-ktp itu nantinya. bahkan produk itu akan dibagikan kapan kita belum ada yang mengetahuinya. melihat antrian yang seperti itu, insting teknik industri saya langsung bekerja. mengapa hajatan nasional seperti itu bisa mengakibatkan antrian panjang? sedikit analisis saya berikut hanya melihat sedikit dari kemungkinan penyebab antrian dan aspek lain yang bisa dengan mudah dilihat dari sudut pandang saya. di sini saya tidak akan mengulas mengenai keterkaitan antara e-ktp dengan keamanan nasional, korupsi, dll. ini semata-mata teknis yang sangat mungkin terjadi pula di daerah lain.








