Satu Komando [part 2]

ini adalah lanjutan dari part 1 yang entah sudah berapa tahun yang lalu. seberapa sering kita mendengar “Indonesia tidak memiliki pemimpin yang baik”? sering sekali bukan? bahkan dengan atau tanpa kita sadari, kita sering mengucapkan baik secara lisan maupun dalam hati kita. tetapi, sejauh mana kita bertanya pada diri kita “layakkah kita dipimpin oleh pemimpin yang baik?” dan “sudahkan kita menjadi rakyat yang baik?”. bisa saja mereka para pemimpin kita berkata “saya tidak punya rakyat yang baik”. sah-sah saja bukan?

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran, politik | Di-tag , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan Komentar

Virus Jokowistik

mungkin anda mengira tulisan ini akan menggambarkan kebencian saya kepada jokowi.bukan, saya bukanlah pembenci jokowi, bukan pula orang yang memuja jokowi layaknya dewa. saya hanya merasa benci melihat berita tentang jokowi yang begitu tidak logis. media massa yang ada sekarang kebanyakan berada pada dua sisi, satu sisi melambungkan nama jokowi dan sisi yang lain menjatuhkan jokowi. seolah-olah jokowi adalah pemilik negeri ini, jadi ketika ia bersikap baik ia dilambungkan setinggi mungkin dan ketika ia melakukan kesalahan meskipun sangat kecil dan mungkin bukan ia yang melakukan kesalahan, berita yang ada menginjak-injak sehina mungkin. itulah resiko yang harus ditanggung oleh jokowi, karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran, politik | Di-tag , , , , , , , , , , , | Tinggalkan Komentar

Di balik Suasana Duka Ta’ziyah

apa yang anda fikirkan mengenai ta’ziyah? suasana duka cita, sendu, sedih, dan semacamnya. memang itulah yang sewajarnya terjadi. tapi ada satu sisi “keindahan” dalam suasana duka. silaturahim, sebuah aktivitas yang cukup spesial. ketika ada orang yang meninggal dunia, itu adalah waktu yang “spesial” untuk bersilaturahim, khususnya kepada ahli waris atau sekedar melepas ke peristirahatan terakhir.

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran | Di-tag , , | 4 Komentar

PKS Lover VS PKS Hater

“dunia politik asyik ga asyik”, begitu bang iwan fals bilang. ibarat makan bakso, tanpa sambal terasa hambar. dan politik adalah sambal. jika kita makan sambal saja, bukan kenikmatan tapi justru sakit yang dirasakan. berbicara politik indonesia, PKS adalah bahasan yang selalu menarik di setiap saat. meski saya suka sambal, saya bukanlah kader atau simpatisan suatu parpol. saya bukanlah seorang PKS lover bukan pula PKS hater. saya menggunakan istilah PKS lover untuk para kader maupun simpatisan PKS dan PKS hater untuk para anti PKS.

Lanjut membaca

Ditulis pada politik | Di-tag , | Tinggalkan Komentar

Tak Ada Istilah “Kebetulan”

kemarin, setelah ke pergi ke sewon, ring road selatan yogyakarta, saya niatkan diri ke studio MQ FM jogja di kampus AMIKOM di ring road utara untuk mendaftarkan diri mengikuti wisata sahabat MQ. pas mau pulang, di lantai satu secara kebetulan ketemu teman saya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu. dari sekian banyak mahasiswa di sana, bertemu di sana dengannya adalah sebuah kebetulan. tapi, sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua telah diatur oleh Allah. tanpa sepengetahuan saya, saya telah diatur untuk berputar-putar terlebih dahulu ke jalan-jalan yang memutar, berhenti atau berjalan di lampu merah, bertemu dengan kru MQ FM sekian menit, dan lain sebagainya, semua telah diatur oleh Allah.

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran | Di-tag , , , , | 8 Komentar

Diam itu [Masih] Emas

tulisan ini terinspirasi dari tulisan sahabat online saya, Fauzi Hasan Ar Rosyid di blognya yang menuliskan “Tidak Selamanya Diam itu Emas”. tetapi saya di sini akan melihat diam itu emas dari sudut pandang lain. tulisan ini bukan bermaksud mongkonfrontasi duh bahasanya mana yang benar dan mana yang salah, bukan pula mau sok pintar karena saya juga bukan orang pintar dan saya ga minum t*lak a*g*n. ini hanya untuk menambah pengetahuan saja dengan melihat suatu kasus dari berbagai sudut pandang.

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran | Di-tag , , , , , , | 1 Komentar

Jangan Memotong Pembicaraan

salah satu adab yang diajarkan ketika masih kecil adalah jangan memotong pembicaraan. ketika ada orang lain yang sedang berbicara, dengarkan dahulu baru ditanggapi, bukannya dipotong di tengah untuk langsung ditanggapi. yang terjadi nantinya adalah omongan yang seperti burung mengoceh. hal itu yang kini sering terjadi, bukan hanya terjadi di akar rumput, bahkan para pejabat nasional pun tidak punya adab yang demikian baik.

Lanjut membaca

Ditulis pada pelajaran | Di-tag , , , , , , | 2 Komentar