Pemuda, antara Idealisme dan Realitas

hari sumpah pemuda, semua mata tertuju pada pemuda. apa yang kini pemuda berikan kepada negeri ini? mengapa gaungnya tak sehebat hari itu, hari ketika lagu Indonesia raya dikumandangkan pertama kali, hari ketika semua elemen kepemudaan bersatu, ketika sebuah pertemuan dapat menggentarkan penjajah? mengapa pemuda kian jauh dari nasionalisme? dan yang terakhir, saya balik bertanya “mengapa Anda menanyakan itu?”

mengapa kita hanya melihat apa yang tidak dilakukan oleh pemuda kepada negara bukan apa yang telah diberikan? memang jika dibandingkan, jumlah yang bermanfaat dan yang menyebar mudharat masih belum seimbang, tapi mengapa mereka seolah-olah tidak dilenyapkan dari kehidupan? sudahlah, ku tak ingin memperdebatkan hal ini, karena mereka saja ikhlas, kenapa saya malah ribut.

yang saya pertanyakan, mengapa mereka yang tidak memberi manfaat, berbuat seperti itu? (silakan sebutkan sendiri apa maksud dari “seperti itu”). kita lihat apa yang telah terjadi di luar sana, terlalu banyak yang lebih memikirkan bagaimana agar dapur tetap mengepul daripada memikirkan agar dapur tetangga juga mengepul. terlalu banyak yang berfikir aku harus segera lulus sekolah agar tidak terlalu lama membayar biaya sekolah daripada bagaimana anak tetangga bisa sekolah juga. serta fikiran-fikiran lainnya yang serupa. salahkah mereka berfikir dan bersikap seperti itu? mengapa mereka seperti itu?

mereka seperti itu bukan semata-mata dari lahir langsung punya fikiran seperti itu. semua manusia bersikap karena beberapa hal. bisa karena diri sediri, bisa pula dari sistem lingkungan yang ada. apakah para pemuda pernah dan secara kontinyu diberikan pemahaman mengenai kepedulian? apakah sekitar pemuda itu membiasakan kepedulian sejak ia masih kecil? jika tidak, apakah pemuda sebagai produk pendidikan kanak-kanak hanya menjadi korban hujatan?

jika kita ingin memperbaiki bangsa ini, perbaiki pemudanya. memperbaiki pemuda tidak bisa secara instan, binalah mereka sejak kanak-kanak. anak-anak akan menjadi baik ketika orang tuanya dan saudara dan teman-temannya baik. jadi perbaiki semua entitas dalam sistem. dan bagi yang sudah terlanjur muda, tak ada kata terlambat untuk berubah.

kemudian, mengapa mereka, para pemuda “jaman dulu” bisa bersatu tapi sekarang tidak? kita harus melihat realita pada masa itu. semua orang, tua muda, wanita laki-laki, semua bervisi satu “menghapuskan penjajahan di Indonesia”. visinya jelas dan terukur. parameter keberhasilan dari visi itu jelas, Indonesia merdeka dari penjajahan. kita lihat masa sekarang, apa visi kita? kita masing-masing baik pribadi maupun kelompuk punya visi yang berbeda-beda. visi kita mungkin bisa disatukan mejadi “Indonesia yang sejahtera”. lalu parameter sejahtera itu seperti apa? setiap orang punya pandangan tersendiri mengenai parameter sejahtera. akibatnya, jalan yang diambil pun berbeda-beda karena visi kita tidak jelas.

mungkin benar kata salah seorang teman. persatudan dapat tercapai dengan dua cara, satu pemimpin atau musuh bersama. saat itu, musuh bersama jelas-jelas ada dan terlihat, penjajah. dan pemimpin pun tunggal, meski berganti-ganti dari satu waktu ke waktu kemudiam. kini, musuh bersama kita bersifat kata sifat bukan kata benda, kemiskinan, perpecahan, atau lainnya. jadi masih terlalu abstrak. pemimpin pun banyak, masing-masing kelompok punya pemimpin masing-masing dan pemimpin nasional kita pun kehilangan kepercayaan rakyat.

jadi, ketidakpedulian pemuda bukan satu entitas yang tidak ada hubungan dengan entitas lain, tapi pemuda, kepedulian, kesatuan, merupakan sistem yang di dalamnya ada entitas-entitas yang saling berkaitan, sekaligus sebagai sub sistem dari sistem yang lebih besar yang saling berkaitan dengan entitas atau subsistem lainnya. dan sistem harus memiliki tujuan. tujuan sistem besar kita apa ya?

Terima kasih karena udah menyempatkan membaca. Silakan jika berkenan dilanjutkan dengan memberikan komentar... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s