Detik-Detik Penantian “Korban Manusia” [semoga tidak terjadi]

insya Allah hari ahad kita akan merayakan salah satu dari idain (dua hari raya) yaitu hari raya idul adha. sebagaimana pengumuman departemen agama dan beberapa pengumuman dari organisasi Islam, kita akan meryakannya secara serempak, tidak ada perbedaan tanggal 10 dzulhijjah. hari raya merupakan hari dimana kita tidak merasakan kesusahan. jika ada dari saudara kita yang sedang merasa kesusahan, kita wajib membantunya agar minimal ketika idul adha mereka tidak kesusahan. mengapa minimal, karena selain pada idul adha kita pun memiliki kewajiban untuk membantu mereka. biasanya ketika idul adha kita berkurban sapi atau kambing. kalau di belahan negara lain ada biri-biri, domba, atau unta. di Indonesia ada satu lagi yang dikorbankan, yaitu saudara kita sesama manusia.

benarkah? daerah mana itu? ya, adanya malah di sekitar kita. kita lihat idul adha tahun-tahun yang lalu, berapa orang yang menjadi korban desak-desakan memperebutkan daging kurban? mereka (mungki termasuk kita) tidak peduli kalau di kanan kirinya adalah juga manusia. mereka rela antri dari jam 6 pagi (bahkan mungkin dari sebelumnya) padahal pembagian daging baru dimulai jam 18. ketika proses pembagian, standar operasi yang direncanakan panitia pun gagal semua. bahkan beberapa tempat panitianya tanpa antisipasi apapun akan terjadinya hal itu. yang pasti dengan atau tanpa rencana, penumpukan “peminta” daging kurban terjadi, desak-desakan bahkan injak-injakan pun terjadi. mendingan kalau hanya injak kaki, ini injak kepala.

kalau sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan, yang meminta atau yang memberi? tak ada gunanya mencari siapa yang salah. yang diperbaiki adalah sistemnya. baik sistem pembagian atapun sistem berfikir dari entitas yang ada. mereka adalah yang memberi dan yang menerima. sistem yang baik itu seperti apa? aku juga bingung, karena tiap tempat kasusnya berbeda-beda. yang pasti, bagi yang meminta, jangan membiasakan meminta. jika dapet ya alhamdulillah, ga dapet jangan memaksakan untuk dapet. memang keikhlasan di negeri ini sungguh memprihatinkan.

ingat pesan AA Gym, konsep syukur dan sabar. yang kaya bersyukur, yang miskin bersabar. yang kaya bersabar, yang miskin bersyukur. harapannya besok kita cukup berkurban kambing atau sapi, tanpa ada “berkurban manusia”

Terima kasih karena udah menyempatkan membaca. Silakan jika berkenan dilanjutkan dengan memberikan komentar... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s