tadi pagi iseng-iseng (agak sengaja) buka facebook. di status salah satu radio muslim di Solo tertulis kalau hari ini adalah hari “Anti Korupsi Sedunia”. tapi kok sepi-sepi aja ya? atau hari ini malah diperingati sebagai hari “Korupsi Sedunia”? bahkan ketika sore hari saya buka facebook lagi seharian hanya satu status yang isinya tentang hari anti korupsi selain status dari radio pada pagi hari. sepertinya yang tidak tahu kalau hari ini adalah hari anti koruspi bukan hanya saya sendiri, bisa jadi hanya sedikit yang mengetahui.
Korupsi, satu kata yang lagi terkenal, bahkan lebih terkenal daripada Ayu ting ting (apa hubungannya). masyarakat Indonesia secara luas baru mengetahui tentang istilah ini pada akhir rezim orde baru. karena lengsernya pak harto salah satunya karena kasus korupsi. tapi, jika dirunut lebih jauh, di Indonesia sudah jauh-jauh hari terjadi korupsi. ingat dengan VOC? organisasi dagang milik Belanda di Indonesia. organisasi dagang ini bangkrut dan bubar gara-gara korupsi. jadi korupsi ini adalah warisan dari bangsa belanda yang menjajah Indonesia selama lebih dari tiga setengah abad.
kemudian, perlukan hari anti korupsi ini diperingati? kata salah satu teman di facebook, buat apa memperingati karena korupsi sudah menggunung es. memang benar, saking menggunung es, sampai-sampai bagian bawah es yang terendam air beribu-ribu kubik lebih besar daripada yang terlihat. perhatikan saja tayangan berita televisi swasta (ga tahu kalau lembaga penyiaran publik) dalam satu hari pasti menyiarkan tentang kasus korupsi. ibarat keris empu gandring, keris dibuat demi perdamaian tapi perpecahan yang terjadi. semakin banyak senjata (baca: aparat penegak hukum) tapi semakin ramai saja kasus korupsi.
suatu hari pernah ngobrol dengan salah satu teman yang merupakan preman kampung di kampungnya. dia adalah lulusan STM dan kini bekerja sebagai tukang giling padi keliling di kampungnya. dia bertanya, sebenarnya siapa yang memulai aksi korupsi? dia menjelaskan, sebenarnya yang memicu terjadinya korupsi adalah rakyat. lho, kenapa? kita lihat saja, di setiap pemilihan (pemilu presiden, pemilu legislatif, pilkada, pemilihan kepala desa, maupun pemilihan kepala dusun) rakyat hanya mau memilih kandidat yang memberi uang. bahkan ada juru kampanye tertentu yang tugasnya adalah membagikan uang. meski kandidat mau bermain bersih, tapi jika rakyat menghendaki demikian, kandidat jujur justru tersingkir. di banyak wilayah Indonesia, kasus demikian masih banyak terjadi. mungkin (menurut saya pribadi) jumlah daerah yang demikian jauh lebih banyak daripada yang jujur. kita ingat kasus pilkada beberapa waktu yang lalu, saya lupa pilkada daerah mana, masyarakat mengadukan politik uang salah satu calon kepada panwaslu. mereka mengadukannya sebenarnya bukan karena terjadi politik uang, tapi uang yang dijanjikan tidak sesuai dengan yang diterima. kandidat menjanjikan per orang mendapat bagian lima puluh ribu rupiah, tapi hanya diberi dua puluh ribu rupiah. (pengaduan yang aneh).
di masa yang dimana-mana terjadi korupsi, kita bahkan sulit membedakan antara yang halal dengan yang hasil korupsi. tapi sulit bukan berarti tidak bisa. agama merupakan pembeda antara yang haq dengan yang bathil. jadi, apa susahnya memberantas korupsi kalau sudah berpegang kepada agama? jika memang belum sukses memberantas dan malah justru ikut-ikutan korupsi, berarti agama masih ditinggalkan. apakah kita mau bangkrut dan bubar seperti yang pernah terjadi pada VOC???