Freeport, mesuji, dan bima, tiga peristiwa berdarah yang yang terjadi selama 2011. sebenarnya masih ada banyak peristiwa berdarah lain dan sejenis dengan peristiwa ketiga tempat itu. tapi, di penghujung tahun ini, ketiga peristiwa di tiga tempat itu yang paling menarik perhatian. ketiga kasus itu memiliki persamaan latar belakang meski berada di pulau-pulau berbeda di Indonesia. ketiganya berkaitan dengan adanya perusahaan baik tambang maupun perkebunan di tempat masing-masing dan masyarakat setempat sebagai “korban” dari keberadaan perusahaan itu. karena masyarakat setempat merasa dirugikan dengan keberadaan perusahaan itu, mereka melakukan tindakan “anarkis” karena bagi mereka hanya itu jalan yang bisa ditempuh mengingat hukum tidak berpihak kepada mereka. kemudian omaticaya itu apa?
kita ingat cerita dalam film layar lebar “AVATAR”. omaticaya adalah masyarakat asli di suatu tempat di luar angkasa. bagi manusia yang datang ke sana untuk menambang onobtanium, batu abu-abu kecil berharga 20 juta sekilo, rakyat omaticaya dianggap sebagai musuh yang harus diberantas. bahkan rumah mereka, hometree, harus di hancurkan karena mineral itu berada di bawah hometree. apakah mereka diam saja? tentu saja tidak, mereka akan mempertahankan apa yang mereka miliki. hometree adalah hak mereka, milik mereka, yang harus diperjuangkan meski dengan peperangan. sebagaimana pernyataan Jake Sully,
Mereka tidak akan menyerahkan rumah mereka.
Mereka takkan membuat kesepakatan.
Demi minuman? Dan blue jeans?
Tak ada milik kita yang mereka inginkan.
Dan Jake Sully membakar semangat mereka:
Kaum Langit telah mengirim pesan pada kita…
Bahwa mereka bisa mengambil apapun yang mereka mau.
Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
Tapi kita akan mengirimkan pesan pada mereka.
Kalian bisa terbang secepat angin.
Kita beritahu klan lain untuk bergabung.
Katakan, Turok Makto (Pengendara Turok) memanggil mereka.
Terbanglah sekarang!
Bersamaku!
Saudaraku, saudariku…
Kita tunjukkan pada Kaum Langit.
Mereka tak bisa mengambil semua yang mereka inginkan!
Karena…..
Ini tanah kita!
begitu juga dengan ketiga tempat di Indonesia dan tempat-tempat lain yang memiliki kasus sejenis. mereka akan mempertahankan tempat yang mereka miliki meski harus dengan peperangan.
jika kita melihat film Avatar, ada yang menarik di sana (setidaknya bagi saya). ada empat golongan orang yang ada di sana. saintis, militer, investor, dan rakyat. dalam film itu, militer dapat di gerakkan oleh investor. begitu juga dengan saintis. karena keduanya memerlukan dana dalam melancarkan kegiatannya. jadi, dengan segala upaya hasil dari kegiatan militer dan sains harus kembali kepada investor. dan pada akhirnya, rakyat yang menjadi korban dari “koalisi” mereka. meski akhirnya ada dari pihak saintis dan militer harus menentangnya karena tidak sesuai dengan hati nurani mereka. tetapi, secara luas, uang memang mengusasi kehidupan (bagi mereka yang mempertuhankan uang dan harta). tapi bagi mereka yang menuruti hati nuraninya, akan tetap berusaha memperjuangkan apa yang mereka (dan kita) sebut kebenaran. di Indonesia pun demikian. para saintis berjuang untuk memperoleh kehidupan mereka sesuai dengan bidangnya di perusahaan itu meski ada konflik batin pada dirinya. militer pun demikian, jika uang sudah berbicara dan pemimpin mereka juga telah menyetujui, rakyat nantinya yang akan menjadi korban. tapi, maaf, ini tidak belaku untuk semua saintis dan anggota militer karena saya yakin masih banyak yang memiliki konflik pribadi.
yang menjadi pertanyaan, akankah datang seorang Toruk Makto untuk menyelesaikan perang?