sudah lama ga update blog tentang lomba. eh, kok ada satu yang agak menarik perhatian, lomba twitter dan blog tentang cita-cita/seandainya menjadi anggota DPD RI. siapa tahu (dan semoga, tapi kayaknya ga mungkin) dapet hadiah iphone atau BB
atau setidaknya blog ini bisa dibaca oleh orang-orang penting di senayan sana, apalagi ada tulisan mengenai kebencian terhadap salah dua politikus
saya tidak pernah bercita-cita menjadi anggota DPD. mengapa? karena sistemnya DEWAN, apa artinya suara yang baik/benar jika dibenturkan dengan suara terbanyak. bisa dibaca di posting tentang HAM dan Demokrasi. jika kita menjadi mereka, apa yang bisa dilakukan?
sudahkan anggota dewan menjalankan tugasnya sekarang? nah, sebelum bercita-cita lebih jauh, harusnya kita jika menjadi mereka, menjalankan job description-nya dulu (baca situsnya). kalau anggota dewan (lebih tepatnya peserta lomba) lainnya mengemukakan tentang pendidikan, kesehatan, pariwisata, keamanan, dll, saya akan berbicara tentang 2 sumber daya yang teramat sangat melimpah di Indonesia, yaitu sampah dan pengangguran. mengapa bukan tentang topik seperti lainnya? jawabannya, sudah banyak yang memikirkan. apalagi, dua hal ini berkaitan juga dengan topik-topik di atas. kesamaan dari keduanya adalah, sama-sama harus ditanggulangi dan harus ada upaya preventif agar tidak bertambah banyak jika tidak setuju, jangan nyampah dan menjadi sampah. hehehe…. dan keduanya pun bisa menjadi berkaitan jika kita mau memberdayakannya. masalah bisa atau tidak, bisa diatur, yang penting mau dulu.
pertama, sampah sesuatu yang seharusnya tidak perlu ada, jika sejak di bagian hulu sudah difikirkan bagaimana nanti sampah yang mungkin timbul. jika di bagian industri hulu difikirkan apa bahan packaging yang ramah lingkungan dan mungkin bisa dikembalikan ke pihak industrial, tidak ada sampah deh. ini tidak semata-mata untuk sampah plastik, aluminium foil, kaleng, kaca, dll, tapi juga sampah daun. jika setiap dari kita (sebagai produsen sampah) menyadari kalau barang yang kita jual akan berakibat menjadi sampah, kita tidak akan membuat packaging yang nyampah. jadi harus ada penyadaran nasional, dan alhamdulillah sudah berjalan, meski agak terseok-seok. demikian juga dengan pengangguran, memiliki masalah yang sama. jika kita sudah tersadarkan agar tidak menjadi sampah masyarakat, hilanglah dari bumi indonesia. ini juga perlu program penyadaran nasional untuk menjadi pengolah sampah yang berakidah. meski jadi pengelola sampah yang kaya raya bahkan menjadi miliuner, kalau tidak berakidah, sama saja bohong. itu dari sisi preventif.
kemudian, karena sudah telanjur keduanya itu menumpuk, berdayakan saja pengangguran untuk mengelola sampah. mau diapakan? memberdayakan untuk pengelolaan sampah bukan berarti menjadi pemulung. ilmuwan Indonesia sudah meneliti tentang sampah, hanya saja belum diaplikasikan. buat apa menunggu sampai jadi negara sampah. apalagi stakeholder yang bisa diberdayakan untuk mengolah juga ada. bisa jadi pembangkit listrik, bisa untuk daur ulang, atau lainnya. jika sampah ternyata masih tersisa sedang pengangguran sudah habis bagaimana? ya tinggal efisiensi dan efektifitas pekerjaan. kalau sebaliknya? masih banyak lahan di Indonesia yang siap diberdayakan di bidang pertanian. yang pasti jangan sampai menjadi sampah masyarakat.
jika keduanya hilang, kesehatan akan membaik karena tidak ada sampah, pendidikan juga berjalan karena ada penghasilan dari sampah, berwisata juga nyaman karena tidak ada bau sampah, keamanan tinggal kita fikirkan karena sudah tidak memikirkan sampah.